Hubungan Agama-Budaya

=Tugas singkat Sos Agama=

Agama, Budaya dan Masyarakat jelas tidak akan berdiri sendiri, ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat dalam dialektikanya; selaras dalam menciptakan ataupun kemudian saling menegasikan.
Proses dialektika yang berjalan menurut Berger, dialami agama dengan tiga bentuk. Pertama, energi eksternalisasi yang dimiliki individu dalam bermasyarakat kemudian membentuk sebuah bentuk kedua, Objektivasi atas kreasi manusia dan akhirnya berputar kembali dalam bentuk ketiga, dengan arus informasi yang menginternalisasi kedalam individu-individu.
Dalam dialektika ini, bukan berarti stagnan. Hasil eksternalisasi yang ter-Objektivikasi selalu mengalami perkembangan, manusia tidak pernah puas atas hasil yang telah dicapai. Dalam pandangan yang Idealis atu perspektif, manusia memiliki pengandaian yang normatif yang selalu tidak berhenti dengan satu ciptaan. Ketidak terjebakan manusia dalam imanensi dan selalu berhadapan dengan keabsurdan membuat manusia –dan Agama yang juga berada dalam dialektika ini– akhirnya bersifat dinamis.
Begitu juga budaya, proses dialektika yang dialami bersama Agama tidaklah jauh berbeda bahkan sama. Tiga bentuk; Eksternalisasi, Objektivikasi dan Internalisasi juga merupakan proses bagaimana budaya terbentuk dan bagaimana ia berhubungan dengan Agama.

Fluiditas (kelenturan) Budaya-Agama

Saat Budaya ataupun Agama dianggap sebagai an sich, manusia terlahir di dunia mau tidak mau harus menerima warisan sebuah ide-ide, sistem tingkah laku, dan artefak yang sebelumnya telah ada. Berbeda dengan ketika budaya ataupun agama dimaknai sebagai proses, keduanya dipandang dalam bentuk kontinyuitas perkembangan, kebangkitan, dan keruntuhan sutau kebudayaan.
Kebudayaan dan Agama sebagai proses adalah realitas yang tidak terhenti satu jejak saja. Fluiditas keduanya merupakan jejak nostalgia dari sebelumnya untuk titik tolak menuju jejak berikut yang bersifat menambahi, merubah atau bahkan meniadakan.

Seorang Anak jadi Korban Agama

Oleh: Aulia El Hakim*

Seorang Anak jadi Korban Agama

Saat Tuhan Maha tinggi, Maha agung dan Maha pemberi juga pengasih. Sedangkan agama memberikan Parameter seberapa tinggi kesalehan dan seberapa jauhnya kesesatan manusia. Itu berarti, Maha agung tidak butuh Agama, Maha Pemberi memberikannya untuk Manusia

Disebuah desa seberang sungai Serayu. Ane** (bukan nama sebenarnya) harus terkurung didalam rumah, karena vonis Gila dan Sesat oleh Pemuka agama sebagai elit dan kemudian tentunya diikuti masyarakat setempat termasuk Orang tuanya yang awam. Interaksi yang merupakan syarat mutlak makhluk sosial hanya bisa dilakukannya dengan orang-orang dirumah, bahkan dengan adiknya sendiri pun sempat dilarang.

Tahukah? Seperti anak guru pada umunya, Ane adalah seorang anak rajin bahkan sangat berprestasi didesa itu; saat SD dari kelas 1-6 menduduki rangking pertama, di SLTP berada 3 besar dan berlanjut masuk SMA Favorit. Meskipun sama-sama berprestasi, Ana berbeda dengan kakaknya, ia lebih suka berteman, berorganisasi dan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Berangkat dari orang tua yang kurang mengenal agama-menurut warga bapaknya adalah keturunan PKI yang jarang Shalat-, lalu sebagai pelajar yang getol berorganisasi, Ane menemukan ROHIS di SMAnya. Bagaikan mendapat mendapat oase di tengah padang pasir, siCerdas ini pun rajin mengikuti kajian dan kegiatan serta melahap banyak buku yang beredar di antara teman-temannya.

Sepulangnya dari sekolah, setelah maghrib ia bagi-bagikan ilmunya dengan teman sejawat di desa dan mengajar ngaji anak-anak tetangga. Sering kali Ane memarahi anak-anak kecil karena suka bergurau, dengan alasan “bergurau itu adalah perbuatan Lagha sia-sia”. Pengetahuan agama yang dibawanya memang berbeda dengan mayoritas berkembang dimasyarakat sekitar rumahnya, karena dianggap terlalu radikal maka kemudian dia divonis Sesat bahkan Gila dengan dalih terhanyut buku-buku dan suka memarahi anak kecil. Sebab Sesat dan Gila yang disandangya inilah memaksa keluarga sendiri mengurungnya dalam rumah.

Manusia, bukan hewan yang bisa dikurung. bahkan katak pun tak mau berada terus-menerus dalam tempurung. Apa lagi Ane !!! Sayangnya, dengan bismillahirrohmanirrokhiim atas nama Tuhan Maha penyayang lagi pengasih, agama dijadikan alat untuk tidak mengasihani dan mengurung seorang anak manusia dalam sempitnya rumah ditengah-tengah Dunia yang luas tak terbatas.

Saat Tuhan Maha Tinggi, Maha Agung dan Maha Pemberi juga Pengasih. Sedangkan agama memberikan parameter seberapa tinggi kesalehan dan seberapa jauhnya kesesatan manusia. Itu Artinya, Maha Agung tidak butuh agama, Maha Pemberi memberikannya untuk manusia. Ketika agama membangun kehidupan tidak berperi-kemanusian adalah keterbalikan, bahkan dengan begitu Tuhan Pengasih menjadi bunuh diri?

Jika keterbalikan ini berlangsung, bagaimana jika salah seorang penganut keagamaan mayoritas di desa Ane hidup atau menjadi seorang anak ditengah-tengah masyarakat dengan mentalitas sama namun mayoritas berkeagamaan seperti Ane?! Bisa dibayangkan, akan ada kurung-mengurung anak diantara dua desa. Seperti perang yang saling menyandra musuhnya.

Siapapun tidak menghendaki ketidak-perimanusian, sebagai manusia dalam ketidak berdayaannya terhadap keyakinan. Akuilah realitas lain yang berbeda.

——————————————————————————————————-

*Mahasiswa Sosiologi 2006 asal Negeri Sebrang Serayu, saat ini hanya aktif di Pers Alternatif (Solidaritas) dan isu-isu Sosial Agama.

**Kisah nyata, disebuah desa di sebrang timur bendungan kali Serayu. Nama disamarkan, menghormati keluarganya, karena mereka anggap keadan putrinya sebagai aib.

Baca selebihnya »

“Ayat-ayat Cinta” Film dan Novelnya, silahkan tonton dan baca….

Sebuah Jawaban singkat, untuk Teman* dan anti-Pluralis serta Kebebasan

Oleh: Aulia El Hakim**

“Ayat-ayat Cinta”

Film dan Novelnya, silahkan tonton dan baca….!!!

“Al-Qur’an tidak pernah berbicara, melainkan laki-laki dan perempuan itulah yang bebicara” Ali bin Abi Thalib (saat perang siffin)

Seorang teman mengirimkan pesan ke E-mail saya (juga kebanyak E-mail lain) sebuah artikel yang dimuat di majalah Risalah Mujahidin,edisi 17 shafar 1429H [februari-maret 2008] dan web site: swaramuslim.com. Artikel ini menyatakan bahwa Novel yang ditulis oleh Habiburrahman el-Shirazy tersebut agar di jauhi karena mengemban misi Pluralisme dan Kebebasan yang membahayakan umat islam.

Menyorot sebuah adegan yang diceritakan “Ayat-ayat Cinta” pada bagian ketiga di bawah judul Kejadian di Dalam Metro; terjadi sebuah cekcok antara rombongan turis Amerika dengan penumpang asli Mesir yang meledakkan amarahnya kepada mereka, sebagai ganti kejengkelan kepada pemerintah Amerika yang arogan dan membantai umat Islam di Afghanistan dan Palestina.

Namun menurut penulis artikel, dalam cekcok tersebut sang-Pengarang novel yang juga pernah nyantri di Al-Anwar Demak dituduh memanipulasi dalil agama dengan menyalahkan orang Mesir, dan memposisikan turis non-Muslim yang berkunjung ke negara-negara berpenduduk Islam seperti Mesir sebagai Ahludz Dzimmah (orang yang dilindungi) yang memiliki hak-hak kekebalan diplomatik.

***

I

Tidak perlu saling tuduh memanipulasi, sepakat dengan Ali bin Abi Thalib saat perang siffin“Al-Qur’an tidak pernah berbicara, melainkan laki-laki dan perempuan itulah yang berbicara” maka sebelumnya saya menanyakan perihal ahludz dzimah ke tiga tokoh agama yang saya anggap kompeten (seorang Pengasuh Ponpes, dosen ilmu agama islam, Ustadz kondang) dari tiga hanya dua yang hampir sama bahkan dibeberapa hal ketiganya berbeda berpendapat. Saya kira sama dengan Habiburrahman el-Sirazy, untuk berbeda dan tidak sembarangan dalam memaknai ahludz dzimah setelah menyelesaikan Postgraduate Diploma (S2)nya di Kairo Mesir.

II

Menanggapi keseluruhan artikel yang anti-Pluralisme, tanpa melihat ahludz dzimah atau bukan. Pluralisme adalah jalan ter-strategis mencapai kerukunan umat manusia yang tidak sebatas ‘di Dalam Metro’. Terutama di Indonesia, karena “untuk konteks Indonesia, munculnya konflik dan maraknya politik agama adalah bukti bertahannya agama di wilayah publik” (Benyamin F. Intan, 2006). Dengan begitu, perlu adanya peran masing-masing agama atau keyakinan dalam ruang publik sehingga terbingkai sebuah toleransi.

Sulitnya, masing-masing agama mengklaim ultimate truth (kebenaran absolute). Mengangkat salah satu kebenaran absolute dan menggugat yang lain adalah diskriminasi, setiap individu dan kelompok berhak untuk hidup serta mengamalkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Oleh karena itu yang pantas saat ini; diperlukan di ruang publik sebuah nilai yang mengikat semua nilai dalam kesatuan, yaitu pengakuan realitas lain yang berbeda tanpa disamakan, Pluralisme.

II

Kebebasan (liberalisme) dalam stigma yang berkembang begitu menakutkan. “Kebebasan adalah hak segala bangsa” sejarahnya telah banyak merenggut jutaan nyawa manusia, kisah Hindu untuk Islam di India sehingga Khasmir memisahkan diri dan juga Misi Pembebasan; Amerika menginvasi Iraq dan Afganistan, sudah sangat membuat trauma manusia di manapun. Termasuk dalam fiksi “Ayat-ayat Cinta”.

Sebenarnya apa dan bagaimana sesungguhnya liberalisme itu? Isaiah Berlin, seorang pemikir besar Liberalisme abad 20 membedakan kebebasan menjadi dua jenis; Kebebasan Negatif dan Kebebasan Positif.

Isaiah Berlin memposisikan diri sebagai penganut Kebebasan Negatif. Negative liberty, mengartikan akan tiadanya kekangan dan koersi dari luar atas nama apapun, individu justru bisa mengaktualisasikan secara penuh apapun yang diyakininya. Sehingga bisa berkembang keragaman yang paling kaya. Yang terpenting, kebebasan negatif adalah memungkinkan situasi “bebas memilih”, suatu situasi yang justru esensial bagi kita, karena kita akan selalu berada dalam pluralisme yang indah dan damai 

Sedangkan Positive Liberty, diartikan sebagai kebebasan yang mengarah keluar atau kebebasan bertujuan. Seperti yang dijelaskan dua tokoh Utilitarian Jeremy Bentham dan JS. Mill. Bentham, menjelaskan kebebasan adalah terpenuhinya hasrat sehingga manusia akan semakin bebas jika hasratnya dikurangi. Sedang Mill menitikberatkan pada tercapainya sebanyak-banyaknya kemaslahatan untuk sebanyak-banyaknya individu. Misalkan, demi kemaslahatan negara, maka Amerika menginvasi negara lain, atau dengan jalan memaksakan ideologi tertentu kepada negara lain. Kebebasan seperti inilah yang menimbulkan stigma, karena mepunyai nalar dominatif atau menindas. []

***

——————————————————————————————————–

*Mahasiswa Sosiologi 2006. Saat ini hanya aktif dalam sebuah Pers Alternatif (Solidaritas) dan Isu Sosial Agama. Email:mangjudge@yahoo.com

**Pren…sibuk ngurus umat ya?! Memimpin SKI di Universitas besar, jangan hanya urus umat sendiri terus dong… Sory jawabannya singkat bgt, maen ke sini yeah