Mereka Berkata: “REVOLUSi!”

Oleh: Ajeng Riska Rahmani*

/google

Teenagers, daun muda, segar, dinamis, aktif. Remaja dicirikan sebagai bibit unggul harapan bangsa yang mampu mendongkrak ketimpangan generasi tua. Dan dewasa ini, remaja mulai diidentikkan sebagai generasi idealis yang haus akan perubahan. Bagaimana bisa?

Demonstrasi, aksi protes, dan kritik-kritik sosial hasil buah pikian remaja seolah merajai media, menjadi traktor berlangsungnya lahan revolusi. Tengok saja tawuran antar remaja yang marak, secara tidak langsung tawuran telah menjadi “simbol” kontrol remaja terhadap kehidupan kehidupan yang berlangsung di Indonesia. Selain itu, tentu masih banyak lagi simbol-simbol yang muncul, seperti aksi geng remaja, asusila remaja, bahkan “kaburaya” remaja-remaja genius ke negeri orang. Apakah hal itu sama dengan pro revolusi-revolusi?

Hampir 13 tahun Indonesia menjalankan reformasi. Masih perlukah revolusi? Jawabannya, TIDAK!

Dalam pengertiannya, revolusi merujuk pada perubahan besar-besaran dalam waktu singkat. Agaknya kata “besar-besaran” terlalu besar untuk merubah negeri ini. Lihatlah revolusi Perancis yang terjadi ratusan tahun silam, keinginan rakyat untuk menjatuhkan pemerintah yang berkuasa (Louis XII) sebagai bentuk kekecewaan terhadap sistem Monarki Absolut justru mengantarkan Perancis pada kudeta Napoleon Bonaparte yang tetap berbendera Monarki Absolut. Meskipun pemikiran revolusi Perancis telah mengalami rangkaian panjang menyakitkan dan memaksa ratusan kepala terpenggal lewat pisau Guillotine termasuk para konglomerat, dan keluarga kerajaan tak terkecuali Raja Louis XVI dan Marie Antoinete.

Masih yakin dengan revolusi memang membawa perubahan, tapi belum tentu membawa perbaikan. Boleh saja kita melirik Revolusi Inggris/Revolusi Industri yang perbaikannya justru dirasakan oleh hampir semua penduduk diseluruh belahan dunia. Namun semua kembali kita berkaca, akan jadi seperti apa negera kita jika revolusi? Apakah termasuk revolusi layaknya Perancis? Atau Inggris? Pertanyaan ini tak perlu dijawab. Cukup direnungkan saja.

Indonesia sejatinya tidak perlu revolusi. Negara kita hanya perlu bertahan. Bertahan untuk tetap memperbaki keadaan. Memperbaiki aparat yang bertugas membasmi tikus berdasi, memperbaiki hukum yang maklumnya bertugas menegakkan dan melindungi hak warga negara, memperbaiki sistem untuk membuat pengemis menjadi aktor opera berkemampuan akting kawakan, memperbaiki sistem untuk membuat pengamen menjadi musisi, membuat publik figur menjadi sebagaimana mestinya mereka dinamai “publik figur”, membuat kriminal menjadi simbol pengendalian represif bagi rakyat dan memperbaiki, terus memperbaiki. Remaja seharusnya tidak terdoktrin oleh pengaruh ancaman kekhawatiran, yang perlu kita lakukan adalah bertahan untuk memperbaiki.

*)Penulis masih berstatus sebagai siswi SMA N 1 Purwokerto. Beliau pernah meraih dua medali emas pada lomba puisi tingkat provinsi dan juara satu blog Radar Banyumas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: