Debat Bahasa Inggris Tingkat Unsoed


v:* {behavior:url(#default#VML);}
o:* {behavior:url(#default#VML);}
w:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Purwokerto, CahUndsoed,(27/5) Semua UKM bahasa inggris Unsoed sedang melakukan kompetisi debat bahasa inggris di gedung Soemardjito. Acara yang bernama IFDC(Inter Faculty Debating Championship) berlansung selama tiga hari, dari mulai tanggal 27-29 mei 2011. Tempat dalam gedung dibuat seperti sek
at-sekat untuk debat masing-masing peserta. ”Acara ini hanya diikuti oleh seluruh UKM bahasa inggris, juara bertahan biasanya dari fakultas hukum,ekonomi atau kedokteran.” Ujar Kisti,mahasiswa komunikasi 2010 selaku panitia.

Gedung Soemarjito dijadikan tempat untuk pusat acara, tetapi ada tiga tempat lain yang digunakan oleh panitia untuk kelancaran acara. ”Sebenarnya kita membutuhkan 12 tempat, tetapi kita maksimalkan 4 tempat saja karena tidak ada tempat lagi. kita menggunakan Graha soedirman, sekre SEF, rumah warga dibelakang gedung soemardjito.” tambah Febi selaku panitia.

Acara pertama dilaksanakan di Gedung  Soemarjito adalah case building yaitu studi kasus untuk persiapan. Puncak acara diselenggarakan pada tgl 29 mei 2011, Pada hari itu dilakukan final dan penampilan kolaborasi antara tari india dengan tari saman sebagai penutup acara. (dian)

Iklan

Aksi ‘Selebritis’ BEM UNSOED

UNSOED, Cahunsoed– Kamis (26/5), sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan BEM UNSOED (BEM U) dan aliansi BEM Fakultas menggelar unjuk rasa di depan gedung Rektorat. Mereka menuntut dibatalkannya kebijakan Biaya Fasilitas Pendidikan (BFP) yang dianggap memberatkan orangtua mahasiswa baru. Anehnya aksi ini tidak melibatkan seluruh elemen mahasiswa, jadi BEM seperti ‘selebritis’ yang elitis ingin dikenal lewat sorot kamera media. Ditambah hanya secuil massa yang mengikuti aksi tersebut.

“Aksi ini memang mendadak. Cuma dipersiapkan semalam,” ujar korlap aksi Irfan Irianto di lokasi.

Aksi bukan main-main, alias butuh persiapan yang matang. Massa bukan robot yang sekedar bawa poster tuntutan, tapi juga harus tercerdaskan lewat forum-forum diskusi yang panjang. Terlebih aksi massa harus melibatkan seluruh elemen mahasiswa, minimal UKM.  Apa kata dunia, kalau aksi massa pakai sistem kebut semalam dan hanya BEM saja. (MG)

Pameran pengembangan Pangan ITP.

UNSOED, Cahunsoed-Kamis (26/05) mahasiswa program studi Ilmu Tekhnologi Pangan (ITP) menyelenggarakan pameran pengembangan produk pangan. Acara ini bertempat di parkiran kampus ITP dan diikuti oleh mahasiswa angkatan 2008. Program acara ini dadakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Produk Pangan, seperti apa yang diutarakan santri margret selaku ketua koordinator panitia.

Bukan hanya sebagai pemenuhan tugas, pameran ini juga dijadikan parameter oleh peserta sejauh mana produk mereka diterima oleh orang. “Yah acara ini kan jadi parameter buat kita sejauh mana produk kita bisa diterima. Kalo semisal banyak kan bisa dilanjutkan keusaha mandiri atau bisa jadi bahan penelitian buat skripsi” ujar Greda Anggi L peserta pameran.

Acara ini cukup sukses menggaet pengunjung banyak. Seperti yang diutarakan agung apriyanto panitia pameran “Dilihat dari banyaknya pengunjung acara ini bisa dikatakan cukup sukses”. Acara yang berlangsung pukul 08.00 berakhir pukul 12.00. (Qyoe)

Fakultas Peternakan Gelar Lomba Memasak Telur

Puwokerto, Jum’at (20/5). Lomba memasak diadakan di Fakultas Peternakan Unsoed. Lomba tersebut merupakan rangkaian acara dies natalis ukm UP3 ke -23. Adapun rangkaian acara dies natalis tersebut, dimulai dari lomba memasak antar pengurus up3, jalan sehat, lomba futsal, dan diakhiri dengan penyuluhan di desa Taman Sari, Karang Lewas.

Para peserta lomba memasak hanya diperbolehkan memasak dengan telur sebagai bahan utama. “Tema lomba memasak tahun ini adalah telur, empat kelompok peserta yang terdiri dari berbagai angkatan ukm UP3 harus menyajikan masakan berbahan telur seharga Rp25.000 per-menu,” ungkap Novan Budi Setyawan selaku ketua umum UP3.

Ketika ditanya mengapa telur dipilih sebagai menu utama, pemuda berkulit putih itu menjawab bahwa telur lebih mudah diolah dan harganya relatif murah. Pada perlombaan ini, sang juara yaitu kelompok angkatan tahun 2008 menyajikan perkedel dan lain lain, sementara kelompok angkatan tahun 2007, 2009, dan 2010 masing masing menyajikan nasi goreng, mi telor, dan sajian sejenis kuah.(bonci)

Unsoed Pasang Tarif Baru Lebih Mahal

Oleh: Mochammad Zakky N. S

“Kalo bukan dari mahasiswa dari mana lagi, karena mahasiswa ya bisnisnya Unsoed !” (Dr. Eko Hariyanto, Msi. Ak, Pembantu Rektor II.)

Tempat pendaftaran mahasiswa baru Unsoed  nampak sepi, hanya tersisa seorang penjual soal latihan ujian. Ia kemudian bertutur kepada Solidaritas tentang o­rang tua mahasiswa yang pingsan setelah tahu harus membayar BOPP sebesar Rp20 Juta. “Dulu saya nganterin orang tua yang anaknya diterima di Jurusan Keperawatan Unsoed, kemudian dia kejang-kejang lalu pingsan setelah tau harus bayar Rp20 Juta” cerita Anto, si penjual soal.

Peristiwa diatas tidaklah membuat Unsoed jera. Malah makin menunjukkan kebuasannya. Rektor, sebagai orang nomor satu di Unsoed mengganti BOPP menjadi Biaya Fasilitas Pendidikan (BFP). Berdasarkan SK Rektor Nomor : KEP.254/H23/PP.00.01/2011, biaya ini wajib dibayar oleh calon mahasiswa Unsoed. BFP secara terang bersanding bersama SPP, SPI, dan Pendamping dalam satuan biaya pendidikan.

Dalam SK, BFP pun tak berbeda jauh dari BOPP. Penarikannya masih tetap berlevel, dari level yang termurah, normal, mahal, hingga sangat mahal. Sayangnya, nominal yang tercantum pada level-level BFP justru lebih mahal daripada BOPP. Harga pada setiap level meningkat dua kali lipat, dari harga sebelumnya yang ada di BOPP. Sebagai contoh, dulu pada level pertama harga yang dibandrol Unsoed untuk Jurusan Manajemen adalah Rp4 Juta, namun kali ini Unsoed membandrol harga Rp10 Juta. Sebuah lonjakan lebih dari dua kali lipat.

Harga pada level satu atau level  termurah menawarkan Rp2 Juta. Tetapi predikat paling murah tidak dianggap murah oleh mahasiswa.  “Rp2 Juta ya mahal, mengingat kebutuhan yang dikeluarkan orang kan cukup tinggi, apalagi untuk warga Banyumas yang kebanyakan berpenghasilan rendah,” ungkap Dwi Jaya, mahasiswa Ilmu Politik FISIP UNSOED angkatan 2010 ini.
Ironis, jika uang Rp2 Juta itu dianggap murah oleh Unsoed.

Kiranya Unsoed terlalu tebal memakai kacamata kuda. Rabun melihat pendapatan harian orang miskin. Level satu saja sudah mahal, pastilah level selanjutnya harganya jauh lebih mahal. Level dua sebagian besar harga yang disajikan berada diatas Rp4 Juta, level tiga diatas Rp8 Juta, bahkan pada level empat sampai ada yang tembus ke angka Rp250 Juta.  Harga seperti ini cukup untuk menguras kantong orang tua calon mahasiswa baru.

Harga tinggi BFP ini ternyata hanya bertujuan menambah jumlah saldo kas Unsoed di bank. Kas sebelumnya yang berjumlah Rp67 Milyar dirasa belum mendapatkan penghasilan memuaskan dari suku bunganya. Nominal Rp67 Milyar yang didapat dari sisa BOPP tahun lalu  sebenarnya cukup untuk menekan harga BFP yang melangit. Tetapi pihak Unsoed lebih memilih menggunakan Rp67 Milyar itu untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Seperti apa yang diungkapkan oleh Pembantu Rektor II  “Yah saldo tersebut harus terus bertambah biar kita mendapatkan keuntungan, masa berkurang ntar gak bisa dapet untung dong.”

Usaha untuk mendapatkan keuntungan dari suku bunga bank inilah yang menjadikan mahasiwa harus merogoh kocek dalam-dalam.  Hal tersebut membuat calon mahasiswa baru keberatan. Suara keberatan muncul dari Dian, calon mahasiswa asal Purwokerto, yang akan mendaftar di Fakultas Ekonomi. “Yah jelas keberatan, yang paling murah aja segitu apalagi level selanjutnya”, ungkapnya dengan raut muka kecewa.

Benar adanya jika mahasiswa hanyalah sapi perah Unsoed. Ladang bisnis satu-satunya kampus rakyat ini. Seperti apa yang dinyatakan Pembantu Rektor II, Dr. Eko Hariyanto, Msi.Ak, “kalo bukan dari mahasiswa dari mana lagi, karena mahasiswa ya bisnisnya Unsoed!”.
Jalur pendaftaran mahasiswa baru sudah terisi. Sapi-sapi perah pun siap dieksekusi. Selamat datang para korban.

Aksi Peringatan Hari Pers Internasional

Purwokerto, Cahunsoed – Senin (9/5). Pukul 11.45, sejumlah wartawan yang tergabung dalam Paguyuban Wartawan Purwokerto (Pawarto) menggelar aksi di kantor Polres Banyumas untuk memperingati Hari Pers Internasional (3/5). “Ini adalah aksi solidaritas untuk mengenang peristiwa kekerasan yang menimpa wartawan Indonesia setahun silam, sekaligus juga memperingati hari Pers Internasional 3 Mei lalu” terang Inggit, mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed.

Dalam aksi tersebut, wartawan menuntut pengusutan secara tuntas atas kasus kekerasan dan pemukulan yang dialami oleh tiga orang wartawan di Surabaya setahun silam (7/5/10). Mereka juga menuntut agar UU no.40 th 1999 tentang pers lebih ditegakkan dan dilindungi. Dan menjelang pukul 11.45, massa pun bubar sekaligus menutup aksi siang itu. (pendy)

Mahasiswa Geologi Kelola Sampah Bersama Warga Sidakangen

KALIMANAH- Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Dr Bumi Unsoed mengajak warga Desa Sidakangen, Kecamatan Kalimanah untuk mengelola sampah yang ada di lingkungannya. Kegiatan tersebut untuk merangsang kepedulian masyarakat atas kebersihan lingkungan.

Kegiatan yang dilaksanakan di wilayah Desa Sidakangen, Sabtu (8/5) lalu itu, bekerjasama dengan Kantor Lingkungan Hidup Purbalingga dan Perhutani. Ketua panitia acara tersebut, Oktoberiman menuturkan, melihat semakin maraknya kerusakan lingkungan, pengelolaan sampah oleh masyarakat sudah sangat diperlukan.

“Pengelolaan sampah yang berupa plastik, misalnya, lebih baik diarahkan untuk daur ulang, jangan dibakar. Karena kalau dibakar hanya akan merusak atmosfer,” jelas mahasiswa Jurusan Teknik Geologi Fakultas Sains dan Teknik Unsoed tersebut.

Selain diajak untuk mengelola sampah di lingkungan sekitar, warga Sidakangen juga diperkenalkan dengan dampak dari penggunaan barang-barang elektronik bagi lingkungan. Misalnya, dampak dari penggunaan AC dan kulkas. “Setelah kegiatan, penggunaan barang-barang itu tidak lagi secara berlebihan,” ujarnya.

Mahasiswa yang karib disapa Beri itu mengatakan, warga tidak hanya diberi materi tentang kebersihan lingkungan melalui sosialiasi. Akan tetapi, juga diajak untuk membersihkan lingkungan bersama-sama. “Kegiatan itu melibatkan warga dan juga mahasiswa,” kata dia.

Ditambahkannya, pada kesempatan tersebut, HMTG Dr Bumi Unsoed Fakultas Sains dan Teknik Unsoed juga menyiapkan 500 bibit trambesi untuk ditanam warga. Hanya saja, katanya, pemberian bibit tidak ditujukan bagi warga Sidakangen, namun juga di Desa Jompo dan Desa Rabak (keduanya di Kecamatan Kalimanah) serta lingkungan kampus.

“Desa-desa tersebut sengaja dipilih karena berada dekat dengan lingkungan kampus. Serta setelah disurvei, di sana juga masih banyak lahan kosong yang masih bisa ditanami,” terang Beri lebih lanjut. (bw-)