Rezeki Pemulung ditengah Proses Wisuda

Auditorium Unsoed, Cahunsoed – rabu (22/06). “Empat karung ini bisa dapet Rp.10ribu, mas” tutur Sairi, pemulung asal Grendeng Kalipelus. Ibu paruh baya ini berhasil mengantongi empat karung berisi sampah-sampah bekas makanan para tamu dan wisudawan di Auditorium UNSOED saat itu.

Ya, Auditorium UNSOED kemarin (rabu/22) menjadi ladang emas bagi para pemulung. Sampah-sampah yang berserakan di Auditorium UNSOED saat itu tak ubahnya seperti harta yang siap dipungut untuk menjadi penyambung hidup mereka. “Lumayan mas, sampah ini kalo ditukar bisa buat beli beras untuk makan selama tiga hari” tambah janda beranak satu ini.

Tidak hanya Sairi, beberapa pemulung lainnya pun terlihat turut serta mengais rezeki ditengah ramainya proses wisuda para mahasiswa di Auditorium tersebut. Dari yang sudah berumah tangga, sampai bocah seumuran anak SD pun terlihat berlomba-lomba mencari sampah yang kemudian ditukar untuk berbagai keperluan hidup mereka. (aguz)(arif)

Iklan

Melawan Kekecewaan Diantara Sekat

Oleh : Pendi Wijanarko

Tak usah berharap banyak pada janji yang tak pasti, sekat itu bisa kita robohkan sendiri

Sebuah bangunan berdiri tegak di sudut kampus Fisip. Bangunan itu bernama Sekretariat Bersama (Sekber) UKM dan HMJ. warnanya yang orange menyala ternyata menyimpan segudang kekecewaan bagi para calon penggunanya. Ya, gedung yang sudah diserahterimakan pada tanggal  16 Mei 2011 itu sampai saat ini tak dihuni oleh satu pun UKM maupun HMJ.

Bukan tanpa alasan bila sampai saat ini UKM dan HMJ belum menempati pusat kegiatan mahasiswa Fisip itu. Kondisi sekre yang tidak layak menjadi alasan utama seperti yang diungkap  Heru Gian Setiono, pengurus UKM Sepakbola. “Kalo ukuran sekre cuma 3×3 meter sih ga bisa buat ngapa-ngapain , Apalagi UKM olahraga kan gak cuma sepakbola, udah gitu sekrenya digabung, bayangin aja” keluhnya penuh kecewa.

Sedikit mengingat peristiwa beberapa bulan yang lalu. Ketika pembangunan sekretariat bersama berukuran 3×3 meter dilakukan berdasarkan keputusan sepihak dari Fakultas. Pada akhirnya menuai protes dari mahasiswa. Alhasil, lahirlah forum yang mepertemukan mahasiswa dengan Dekanat, Desember 2010 silam. Kala itu pembangunan sekber baru berjalan setengahnya.

Forum tersebut menghasilkan beberapa keputusan. Salah satunya, Dekanat sepakat untuk membangun sekretariat yang layak berukuran 3×6. Namun kesepakatan tinggallah kenangan, ibarat pembual yang mengumbar janji tapi tak pernah ditepati.

Sekat semi permanen sudah terpasang menjadi pemisah ruang per3x3 meter. Tingginya? Jangan berbaik sangka, hanya satu meter! Tak ada bedanya dengan bilik warnet yang ada disekitar kampus. Lantai dua dibiarkan tak bersekat. Niat baik untuk aula bersama, malah kosong melompong tak bertuan

“3×3 kan luas, lagi pula sekre itu hanya untuk tempat administratif saja bagi UKM dan HMJ” ucap Drs. Muslihudin M.Si, Dekan Fisip saat menanggapi luas sekber di forum bersama UKM-HMJ. Padahal, kegiatan UKM dan HMJ tidak melulu urusan administratif. “Ruangan berukuran 3×3 itu kurang representatif untuk organisasi. Apa lagi jika ditambah lemari dan meja, bisa dibayangkan kita musti berhimpitan saat rapat” ucap Etjung W ketua HMJ-AN. Bayangkan, jika kegiatan mahasiswa hanya sekedar membuka pendaftaran dan urusan surat menyurat saja. Bisa jadi sekretariat bersama yang seharusnya menjadi pusat kegiatan mahasiswa akan beralih fungsi menjadi pusat administrasi mahasiswa.

Terlepas dari persoalan administrasi, UKM dan HMJ tentunya membutuhkan tempat untuk mengembangkan ide dan kreatifitasnya. Dengan sekretariat berukuran 3×3 tidak mungkin dapat dijadikan tempat untuk rapat dan berdiskusi. Padahal dari hasil rapat dan diskusi tersebut akan ada transformasi nilai dan pengalaman baru untuk pengembangan ide dan kreatifitas mereka.

Bayangkan saja jika sebuah UKM maupun HMJ tidak memiliki ruang yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk pengembangan ide dan kreatifitasnya. Tidak ada ruang yang dapat memberikan mereka sebuah gambaran tentang identitas dan jatidiri UKM dan HMJ nya. Ketika mereka tidak dapat menyalurkan segala ide kreatifnya sehingga dapat menyurutkan semangat untuk menghidupkan UKM dan HMJ. Banyak hal yang tidak bisa dibayangkan saat semangat itu surut dan menghilang begitu saja dari para mahasiswanya.

Semangat untuk menghasilkan ide kreatif  bukan lahir karena keindahan yang ditawarkan dari sebuah fasilitas. Semangat dan ide kreatif itu muncul dari kebebasan dan keleluasaan untuk berfikir dan bergerak.

Dengan kondisi yang demikian, rasa kekecewaan pun muncul dari para mahasiswa. “Ini sudah sangat mengecewakan. Kalo memang nggak bisa dan nggak mampu mendingan nggak usah menjanjikan lah” ungkap Wahyu Indra P, Presiden BEM Fisip.  Sekretariat bersama sebagai pusat kegiatan mahasiswa pada dasarnya memang harus disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa.

“Silahkan kawan-kawan UKM dan HMJ menggunakan sekber untuk berkegiatan disana, kalo belum bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa ayo kita bikin sedemikian rupa supaya bisa dipakai” tambah Presiden BEM yang akrab disapa Wai.  Nampaknya mahasiswa perlu bersikap dan mengambil tindakan untuk mendapatkan sekretariat yang layak sehingga kebutuhannya terpenuhi tanpa bergantung pada janji-janji birokrasi.

Klinik Musik Ala FISIP

Purwokerto, (11/6), cahunsoed. Berawal dari rasa peduli akan musik, UKM musik di FISIP, Remoef (Relasi Musik FISIP), sabtu siang kemarin mengadakan acara klinik musik. Acara yang diadakan di depan ruang kuliah 1 FISIP Unsoed ini, bertujuan sebagai stimulus bagi musisi khususnya dari FISIP sendiri. Drum menjadi instrument yang di bedah pada klinik musik tersebut.

“Drummer senior dari komunitas Purwokerto diundang untuk menjadi pemateri pada klinik musik” ungkap Agam Wisesa selaku ketua umum Remoef. Adanya drummer senior ini, dimanfaatkan para penonton untuk berbagi tentang masalah drum.

Hari itu memang milik para drummer. Bagi yang tertarik pada alat musik lain, Remoef menjanjikan akan ada acara lanjutan untuk alat musik yang lain. Seperti yang di jelaskan Agam, “Acara ini juga diharapkan bakal ada lanjutannya. Bukan hanya drum aja, tapi juga gitar sama alat musik yang lain.” <egi>

Tidak Ada Sosialisasi, Laskar Soedirman Siapa Yang Tahu

UNSOED, Cahunsoed- Laskar Soedirman, Suatu Tim bentukan BEM Unsoed yang diresmikan siang tadi (kamis, 07/06), tetapi  masih banyak mahasiswa yang tidak tahu tentang tim yang bergerak di pengabdian masyarakat tersebut. Salah satunya Susan Agustin, mahasiswa Sosiologi angkatan 2008 ini malah balik menanyakan  apa itu Laskar Soedirman saat diwawancarai.

Tidak hanya mahasiswa, Pembantu Rektor III Prof. Dr. Imam Santosa, M.Si. pun tidak tahu menahu tentang Laskar Soedirman ketika ditanyai Cahunsoed. Padahal ia adalah pembina BEM Unsoed dan penanggung jawab kegiatan mahasiwa.

Akan tetapi, menurut Unggul Budi W Laskar Soedirman sudah disosialisasikan keseluruh civitas akademik.  “Pembentukan Laskar Soedirman sudah disosialisasikan keseluruh BEM Fakultas dan civitas akademik yang ada di Unsoed” Jelas mentri pengabdian masyarakat BEM Unsoed ini.

Namun pernyataan Unggul tersebut dibantah oleh Presiden BEM FISIP, Wahyu Indra P.  “Laskar Soedirman ini tidak ada sosialisasi sama sekali, buktinya dari hal terkecil saja  pamfelet, tidak ada yang menempel di mading FISIP sama sekali kan ? itu cukup menunjukan tidak adanya sosialisasi” Bantah wahyu. (Qyoe)

Lustrum ke-IV Bio Explorer

Fakultas Biologi, Cahunsoed – sabtu (04/6). Himpunan Mahasiswa Fakultas Biologi yang tergabung dalam Bio Explorer menyelenggarakan Lustrum Bio Explorer kemarin (sabtu/04) di ruang kuliah Fakultas Biologi Unsoed. Acara yang diadakan lima tahun sekali tersebut sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota aktif dengan alumni perintis Bio Explorer sekaligus memperingati ulang tahun Himpunan yang ke-20.

Acara akbar yang disusun oleh 17 anggota himpunan ini meliputi syukuran bersama Rektor, jajaran dosen dan Dekanat, pengurus-pengurus UKM, dan tukang kebun yang bekerja di Fakultas Biologi. Setelah itu dilanjut dengan temu kangen antar anggota aktif Bio Explorer dengan alumni perintis.

“Untuk acara temu kangen, itu diadakan di Windu Sari, Wisma Asoka. Kalau syukuran diadain dikampus aja,” ungkap Alen, mahasiswa Fakultas Biologi 2008 merangkap ketua panitia acara Lustrum ini. Acara Lustrum yang ke-IV ini sendiri rencananya akan diadakan selama dua hari, sabtu (04/6) dan minggu (05/6).

Diesnatalis IV, FKIK Mengadakan Kontes

PKM Unsoed, Cahunsoed – Sabtu (04/6). Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) pagi tadi (sabtu/04) diramaikan dengan lomba kontes menyanyi dari Fakultas Kesehatan Ilmu Keperawatan (FKIK) Unsoed. Lomba yang diselenggarakan oleh BEM FKIK ini dinamakan Idol Contest, dengan tema “Pesta Budaya Indonesia, Tebarkan Cinta dengan Budaya”. Sesuai dengan temanya, lomba ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta sekaligus melestarikan budaya Indonesia dikalangan mahasiswa. “Selain menyambut diesnatalis FKIK yang ke-IV, lomba ini juga diadakan sebagai bentuk apresiasi terhadap bakat mahasiswa” tambah Ayu, ketua panitia kontes lomba seni ini.

Lomba yang berlangsung dari pukul 09.00 ini diikuti sekitar delapan peserta yang semuanya dari kalangan karyawan dan mahasiswa FKIK. Lomba seni ini juga mengundang PD3, Sekjen ISM FKIK, dan Presiden BEM FKIK, Elia Nurayunin.  “kalau jumlah panitia sekitar 34 mahasiswa, yang semuanya dari jurusan kesehatan Masyarakat,” papar ketua panitia yang saat ini masih berstatus mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat.

Setelah lomba berlangsung sekitar tiga jam, akhirnya terpilih tiga pemenang, diantaranya juara pertama dari Jurusan Kesehatan Masyarakat, kemudian disusul juara kedua dan ketiga dari Jurusan Farmasi. (aguz, hxm)