Unsoed Pasang Tarif Baru Lebih Mahal

Oleh: Mochammad Zakky N. S

“Kalo bukan dari mahasiswa dari mana lagi, karena mahasiswa ya bisnisnya Unsoed !” (Dr. Eko Hariyanto, Msi. Ak, Pembantu Rektor II.)

Tempat pendaftaran mahasiswa baru Unsoed  nampak sepi, hanya tersisa seorang penjual soal latihan ujian. Ia kemudian bertutur kepada Solidaritas tentang o­rang tua mahasiswa yang pingsan setelah tahu harus membayar BOPP sebesar Rp20 Juta. “Dulu saya nganterin orang tua yang anaknya diterima di Jurusan Keperawatan Unsoed, kemudian dia kejang-kejang lalu pingsan setelah tau harus bayar Rp20 Juta” cerita Anto, si penjual soal.

Peristiwa diatas tidaklah membuat Unsoed jera. Malah makin menunjukkan kebuasannya. Rektor, sebagai orang nomor satu di Unsoed mengganti BOPP menjadi Biaya Fasilitas Pendidikan (BFP). Berdasarkan SK Rektor Nomor : KEP.254/H23/PP.00.01/2011, biaya ini wajib dibayar oleh calon mahasiswa Unsoed. BFP secara terang bersanding bersama SPP, SPI, dan Pendamping dalam satuan biaya pendidikan.

Dalam SK, BFP pun tak berbeda jauh dari BOPP. Penarikannya masih tetap berlevel, dari level yang termurah, normal, mahal, hingga sangat mahal. Sayangnya, nominal yang tercantum pada level-level BFP justru lebih mahal daripada BOPP. Harga pada setiap level meningkat dua kali lipat, dari harga sebelumnya yang ada di BOPP. Sebagai contoh, dulu pada level pertama harga yang dibandrol Unsoed untuk Jurusan Manajemen adalah Rp4 Juta, namun kali ini Unsoed membandrol harga Rp10 Juta. Sebuah lonjakan lebih dari dua kali lipat.

Harga pada level satu atau level  termurah menawarkan Rp2 Juta. Tetapi predikat paling murah tidak dianggap murah oleh mahasiswa.  “Rp2 Juta ya mahal, mengingat kebutuhan yang dikeluarkan orang kan cukup tinggi, apalagi untuk warga Banyumas yang kebanyakan berpenghasilan rendah,” ungkap Dwi Jaya, mahasiswa Ilmu Politik FISIP UNSOED angkatan 2010 ini.
Ironis, jika uang Rp2 Juta itu dianggap murah oleh Unsoed.

Kiranya Unsoed terlalu tebal memakai kacamata kuda. Rabun melihat pendapatan harian orang miskin. Level satu saja sudah mahal, pastilah level selanjutnya harganya jauh lebih mahal. Level dua sebagian besar harga yang disajikan berada diatas Rp4 Juta, level tiga diatas Rp8 Juta, bahkan pada level empat sampai ada yang tembus ke angka Rp250 Juta.  Harga seperti ini cukup untuk menguras kantong orang tua calon mahasiswa baru.

Harga tinggi BFP ini ternyata hanya bertujuan menambah jumlah saldo kas Unsoed di bank. Kas sebelumnya yang berjumlah Rp67 Milyar dirasa belum mendapatkan penghasilan memuaskan dari suku bunganya. Nominal Rp67 Milyar yang didapat dari sisa BOPP tahun lalu  sebenarnya cukup untuk menekan harga BFP yang melangit. Tetapi pihak Unsoed lebih memilih menggunakan Rp67 Milyar itu untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Seperti apa yang diungkapkan oleh Pembantu Rektor II  “Yah saldo tersebut harus terus bertambah biar kita mendapatkan keuntungan, masa berkurang ntar gak bisa dapet untung dong.”

Usaha untuk mendapatkan keuntungan dari suku bunga bank inilah yang menjadikan mahasiwa harus merogoh kocek dalam-dalam.  Hal tersebut membuat calon mahasiswa baru keberatan. Suara keberatan muncul dari Dian, calon mahasiswa asal Purwokerto, yang akan mendaftar di Fakultas Ekonomi. “Yah jelas keberatan, yang paling murah aja segitu apalagi level selanjutnya”, ungkapnya dengan raut muka kecewa.

Benar adanya jika mahasiswa hanyalah sapi perah Unsoed. Ladang bisnis satu-satunya kampus rakyat ini. Seperti apa yang dinyatakan Pembantu Rektor II, Dr. Eko Hariyanto, Msi.Ak, “kalo bukan dari mahasiswa dari mana lagi, karena mahasiswa ya bisnisnya Unsoed!”.
Jalur pendaftaran mahasiswa baru sudah terisi. Sapi-sapi perah pun siap dieksekusi. Selamat datang para korban.

Iklan

Aksi Mahasiswa di Hari Pendidikan

*aksi mahasiswa saat didepan gedung DPRD Banyumas

Purwokerto – Cahunsoed, Senin (2/5). Tepat pukul 10.00, mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR), FMN, IMM, BEM-UMP, LMND dan KAMMI menggelar aksi long march dari depan patung kuda Unsoed sampai depan gedung DPRD Banyumas. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut kenaikan gaji guru honorer, menolak segala bentuk praktek komersialisasi pendidikan, menolak RSBI, menolak sistem Ujian Nasional, realisasi APBN dan APBD untuk pendidikan, dan menyuarakan Pendidikan Gratis Untuk Rakyat Miskin.

“Aksi ini sebagai momentum untuk memberitahukan dan mengkampanyekan kepada masyarakat luas perihal kondisi pendidikan Indonesia hari ini” Terang Koordinator Lapangan, Widianto, saat ditanyakan terkait aksi siang itu.

*penyerahan kotak cinta pendidikan kepada M. Najib

Unjuk rasa tersebut juga diwarnai aksi simbolik dengan memberikan kado cinta pendidikan yang ditujukan pada Bupati. Namun karena ketidak hadiran Bupati, kado tersebut diserahkan kepada M. Najib, Pimpinan Satpol PP. Kado tersebut berisi obat kuat dan racun tikus sebagai bentuk sindiran kepada pemerintah agar tidak loyo dalam mengatasi segala bentuk permasalahan negeri, termasuk masalah pendidikan. Dan sekitar pukul 12.00, aksi berakhir dengan menggemakan pengucapan sumpah rakyat Indonesia ditempat aksi tersebut. (pendi)

Sekre Bersama, Dekanat Ingkar Janji

FISIP UNSOED, Cahunsoed– Selasa (12/4). Sosialisasi sekre bersama mulai dilancarkan oleh pihak dekanat kepada perwakilan UKM dan mahasiswa FISIP senin yang lalu (11/4). Sosialisasi itu disampaikan melalui forum sosialisasi dilantai 2 sekre bersama. Selama jalannya sosialisasi, protes keras di pihak mahasiswa pun bermunculan. Bagaimana tidak, poin-poin hasil audiensi antara dekanat dan mahasiswa pada 1 desember 2010 lalu perihal sekre bersama, ternyata tidak digubris oleh pihak dekanat.

Ini terbukti ketika melihat ruang-ruang sekre bersama yang masih tetap berukuran 3x3m. Padahal saat audiensi, rencananya ruang-ruang itu akan diperlebar sampai 3x6m. Peraturan lain yang dicanangkan oleh dekanat pun masih tidak sesuai dengan hasil audiensi empat bulan yang lalu. Seperti peraturan jam malam sekre bersama yang kenyataannya tidak dihapus oleh dekanat.

“Ternyata hal-hal yang sudah diputuskan saat audiensi pada desember lalu tidak dijadikan bahan pertimbangan oleh dekanat terkait sekre bersama ini” Presiden BEM FISIP, Wahyu Indra Prabowo,  melontarkan kekecewaannya pada dekanat dalam forum sosialisasi tersebut. (aguz)

Kabinet baru BEM Fapet UNSOED

Fapet UNSOED, Cahunsoed– Sabtu (26/3). Tepat 14 jam sudah acara pelantikan kabinet BEM Fakultas Peternakan (Fapet) UNSOED periode 2011-2012 usai pagi tadi (26/3). Hasil dari acara tersebut kemudian diperoleh 5 kabinet terlantik yang selanjutnya masuk kedalam sistem BEM Fapet periode 2011 ini, diantaranya kementerian Menkominfo, PSDM, Sospol, PE, dan ISMAPETI.

Acara sakral ini diikuti sekitar 28 pengurus dan dihadiri pula oleh kawan-kawan dari UKM di Fapet. Pelantikan ini pun mengundang Samsi, yang memegang jabatan Pembantu Dekan III Fapet, dan juga Indra yang menjabat sebagai kepala seksi P2D2S PMI (Palang Merah Indonesia).

Prosesi pelantikan yang diadakan diruang seminar 2 ini berlangsung dengan lancar dan khidmat tatkala Ketua BEM mengesahkan jajaran kabinet-kabinetnya,  yang mana mereka nanti akan bekerjasama dengannya dalam satu wadah BEM Fapet UNSOED tersebut.

Dan pada akhir acara, suasana semakin khidmat ketika semua mahasiswa berdiri dengan tegap dan meyanyikan lagu kebangsaan Indonesia “Bagimu Negeri” dengan penuh semangat dan penghayatan. “saya berharap BEM ini akan menjadi lebih baik dan bisa berjalan berdampingan dengan UKM-UKM yang lain difakultas ini” tegas Agung, ketua BEM Fapet yang baru dilantik pada awal maret 2011 lalu. (aguz)(arif)

Aksi Menentang Relokasi

Purwokerto, Cahunsoed– Kamis (17/3). Merupakan hari pertama pedagang bawah kompleks Pasar Wage dipaksa berdagang di lantai II, setelah ada kebijakan penertiban pedagang. Dihibur dengan penyanyi organ tunggal yang meliuk-liuk bergoyang, pria berkaos kerah coklat kotak-kotak menenteng poster tuntutan sambil berjongget mengikuti alunan musik organ tunggal. Tertulis ‘Pedagang Bawah Naik Bangkrut. Anak Tidak Makan’.

“ Pastilah disini sepi Mas. Siang aja pembeli sudah pada bubar. Kita mau cari makan apa nantinya. Suami Saya saja tak disediakan tempat disini,” ucap Darling, korban kebijakan realokasi di Pasar Wage.

Sebelumnya para pedagang ini biasa mangkal di Jalan Wihara.  Mulai pagi buta, mereka sudah mulai berjualan. Namun sekarang dilarang keras oleh pemerintah. Semuanya harus menempati lantai atas Pasar Wage yang buka mulai jam 07.00. Bagian bawah akan digunakan sepenuhnya sebagai tempat parkiran. (MG)

Kuota Penuh, Mahasiswa Kena Dampaknya

UNSOED, Cahunsoed– Selasa (15/3). Tragedi mahasiswa melebihi kuota saat kuliah kembali terulang di Fakultas Biologi UNSOED. Mahasiswa-mahasiswi Fakultas Biologi terpaksa menikmati beberapa mata kuliahnya dengan suasana yang tidak kondusif. Bagaimana tidak, kuota mahasiswa yang target awalnya 60 mahasiswa, ternyata ketika pelaksanaan kuliahnya melebihi batas tersebut, bahkan terkadang bisa mencapai sekitar 120 mahasiswa. Ruang satu dan ruang empat merupakan tempat kuliah yang paling sering terjadi kelebihan kuota mahasiswa.

Ternyata kejadian serupa pun dialami pada Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNSOED. Dampak kelebihan kuota mahasiswa saat perkuliahan terlihat sekali dijurusan ini, seperti fenomena “angkat kursi” oleh mahasiswa yang tidak sempat mendapatkan kursi ketika mereka ingin mengikuti suatu mata kuliah. Mereka dengan terpaksa harus mengambil kursi dari luar untuk ikut mata kuliah yang mereka ambil. Bahkan kemarin (senin, 14) sempat terjadi kejadian dimana beberapa mahasiswa terpaksa mengikuti kuliah di luar kelas akibat ruang kuliah yang sudah penuh.

“kuliah jadi ngga efektif, bahkan serasa tidak adil bagi mereka yang tidak bisa ikut kuliah akibat kelebihan kuota mahasiswa,” keluh Imam, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2009.

Tak hanya Imam, mahasiswa Fakultas Biologi 2009 yang akrab dipanggil Imay pun menuturkan hal serupa. “Proses pembelajaran pas perkuliahan menjadi tidak efektif lagi dengan kejadian ini,” sesal mahasiswa yang tergabung dalam UKM Olahraga Fakultas Biologi ini. (aguz)

UKI kembali Musker

FISIP UNSOED, Cahunsoed– Senin (14/3). Unit Kerohanian Islam FISIP yang biasa dipanggil dengan UKI FISIP akhirnya menyelesaikan Musyawarah Kerja (Musker) yang diadakan sehari yang lalu (13/3) diruang kuliah empat FISIP. Musyawarah yang dimulai pada pukul 10.00 itu dihadiri sekitar 30 pengurus, Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO), dan beberapa alumni UKI sendiri.

“Musyawarah kerja ini membahas program kerja (Proker-red) per-bidang yang dibuat untuk satu tahun kepengurusan,” tutur Adit yang kini menjabat sebagai ketua UKI periode 2011. Proker tersebut dipaparkan setiap bidangnya yang kemudian dikritisi oleh peserta forum yang hadir di ruang tersebut.

Selama delapan jam forum tersebut membahas penuh proker-proker yang sudah disusun. Dan tepat pada pukul 17.45, forum tersebut berakhir sampai lantunan adzan maghrib berkumandang. (aguz)